Stabilitas Sesi Panjang Muncul Setelah Beberapa Transisi Mahjong Ways 2
Mahjong Ways 2 menunjukkan ketahanan yang lebih baik pada sesi bermain berdurasi panjang ketika pengguna sering berpindah antarlayar dan antarfase. Respons kontrol tetap konsisten saat transisi berulang, sehingga gangguan yang biasanya muncul setelah sesi berjalan lama lebih jarang terlihat. Tim pengembang menargetkan proses perpindahan karena bagian ini menggabungkan pemuatan aset, perhitungan hasil, dan sinkronisasi input dalam jeda singkat.
Pada pembaruan minor terbaru, penyesuaian diarahkan untuk menekan beban yang tersisa setelah rangkaian transisi padat proses. Sebelumnya, indikasinya berupa animasi ubin tersendat, audio terlambat, atau layar tampak siap tetapi belum menerima sentuhan dengan tepat. Pola ini sering berangkat dari manajemen status yang kurang rapi, ketika data fase sebelumnya masih tertahan dan ikut membebani fase berikutnya.
Transisi antarfase menjadi sumber beban yang paling sering muncul
Transisi di Mahjong Ways 2 tidak hanya pindah dari menu ke layar utama, tetapi juga perpindahan internal ketika papan ubin berubah konfigurasi setelah satu rangkaian selesai. Peralihan dari fase standar ke fase khusus lalu kembali ke papan berikutnya melibatkan efek visual, audio, dan rekap hasil dalam waktu berdekatan. Lapisan antarmuka seperti pengaturan dan informasi tambahan menambah variasi status, sehingga siklus perpindahan berulang pada sesi panjang menjadi titik paling sensitif.
Titik rawan biasanya terlihat saat game menyelesaikan animasi sambil menyiapkan aset untuk fase berikutnya. Jika elemen yang sudah selesai dipakai tidak dilepas, tugas latar dapat terus berjalan dan menggerus respons. Penyesuaian terbaru menata urutan penyelesaian agar status dibersihkan segera setelah fase selesai, sehingga transisi berikutnya tidak membawa beban sisa.
Pengelolaan memori dan urutan input ikut disesuaikan
Perubahan paling menonjol berada pada pengelolaan memori ketika aset visual dan audio dipanggil berulang sepanjang sesi. Mekanisme cache dipakai lebih selektif, sehingga elemen yang sering muncul bisa dipertahankan tanpa pemuatan ulang, sementara aset yang jarang dipakai tidak ditahan lama. Dengan pola ini, penggunaan sumber daya lebih mudah mencapai titik stabil lalu bertahan, alih-alih naik perlahan setiap transisi.
Selain memori, urutan aktivasi input diperketat agar kontrol tidak aktif sebelum layar benar-benar siap. Langkah ini menekan momen ketika sentuhan masuk di tengah pergantian dan memunculkan kesan tidak merespons. Efeknya terasa pada sesi panjang karena pengguna tidak perlu menunggu pemulihan kontrol setelah perpindahan berturut-turut.
Dampak praktis pada sesi 60 hingga 90 menit
Dalam simulasi sesi 60 hingga 90 menit, kestabilan terlihat setelah puluhan transisi, termasuk saat pengguna bolak-balik membuka lapisan antarmuka. Jeda kecil ketika fase berakhir dan papan baru tampil cenderung berkurang, sementara animasi bergerak lebih mulus pada perangkat spesifikasi menengah. Pada perangkat yang lebih kuat, perbaikannya lebih sering muncul sebagai konsistensi respons, bukan lonjakan performa yang mencolok.
Masih ada skenario yang relevan untuk dipantau, terutama perubahan koneksi dan perpindahan aplikasi ke latar. Koneksi yang tidak konsisten dapat menunda sinkronisasi data dan terasa seperti jeda saat layar berganti, sementara sebagian perangkat menutup komponen untuk menghemat memori. Dengan transisi yang lebih rapi, gangguan dari skenario ini lebih mudah ditangani, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi sistem.
Penyesuaian ini menurunkan risiko performa turun saat aplikasi dibiarkan aktif lama, terutama pada perangkat bermemori terbatas. Tim pengembang biasanya memantau log gangguan untuk memastikan transisi ekstrem tidak berujung penutupan paksa. Fokus berikutnya bisa mengarah ke optimasi ukuran aset dan audio.
